Postingan Populer

Tuesday, 24 February 2026

Keindahan dan Mistisnya Alas Purwo Hutan Paling Angker di Indonesia

Alas Purwo, merupakan hutan lebat di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di Kabupaten Banyuwangi, dikenal tidak hanya karena keindahannya, tetapi berbagai mitos dan kepercayaan yang menyelimutinya. Hutan ini diyakini menyimpan misteri gaib.

Menurut masyarakat setempat hutan ini diyakini sebagai hutan tertua di Jawa, dan sering disebut sebagai gerbang menuju dunia gaib. Banyak cerita mistis yang menjadikannya salah satu tempat paling disegani di Nusantara.

Tempat ini dipercaya bisa memberikan energi-energi ketenangan batin. Kepercayaan akan nuansa mistis ini membuat masyarakat lokal mengingatkan pengunjung untuk berhati-hati. Sebab, melanggar aturan di hutan ini sering dikaitkan dengan kejadian mistis yang mengundang malapetaka.


Hingga saat ini, masyarakat setempat masih percaya dengan mitos-mitos di Alas Purwo, meski tak sedikit juga yang bersikap sebaliknya. Cerita tentang Alas Purwo menarik banyak wisatawan yang penasaran dengan sejarah dan mitos yang ada di baliknya.


Banyak mitos yang berkembang di masyarakat, salah satunya terkait suara panggilan misterius. Jika mendengar suara memanggil, jangan langsung menengok ke belakang. Konon, menengok bisa membawa malapetaka atau membuat seseorang hilang secara gaib


SEJARAH ALAS PURWO

Alas Purwo, terletak di ujung timur Pulau Jawa (Banyuwangi), adalah taman nasional tertua yang diyakini sebagai hutan pertama yang tercipta di tanah Jawa, dengan luas 44.037,30 hektar. Ditetapkan sebagai taman nasional pada 1992, kawasan ini berawal dari suaka margasatwa pada tahun 1939 dan dikenal akan sejarah mistis, mitos kerajaan jin, serta tempat sakral untuk tirakat. Asal Usul Nama: "Alas Purwo" berasal dari bahasa Jawa yang berarti "Hutan Purba" atau "Hutan Permulaan"

Kawasan ini berbatasan langsung dengan Samudra Hindia di bagian selatan dan memiliki beragam Keindahan alam, mulai dari hutan tropis, pantai, savana, hingga goa. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, Alas Purwo diyakini sebagai tempat pertama kali munculnya daratan di Pulau Jawa. Kawasan ini juga dianggap sebagai wilayah sakral yang sering menjadi lokasi tirakat, semedi, dan ritual adat, terutama pada bulan Suro (penanggalan Jawa). Sejak lama, hutan ini menjadi bagian dari cerita rakyat dan kepercayaan spiritual yang memandangnya sebagai pusat energi gaib. Nilai budaya yang melekat mengajarkan masyarakat untuk menjaga kelestarian alam, menghormati roh leluhur, dan hidup selaras dengan lingkungan.


GOA ISTANA

Goa Istana adalah salah satu goa kapur di kawasan Alas Purwo yang memiliki ruang-ruang alami menyerupai istana. Goa ini sering digunakan untuk aktivitas spiritual, seperti meditasi dan semedi. Bentuk stalaktit dan stalagmitnya menjadi daya tarik geologi, sementara nilai budayanya terletak pada fungsi goa sebagai tempat tirakat sejak masa lampau. Dalam sejarah aktivitas spiritual masyarakat sekitar, Goa istana memiliki peranan penting. Sejarah mencatat bahwa goa ini sering digunakan oleh para tokoh spiritual untuk mencari pencerahan ataupun kekuatan batin. Nama "Istana" diberikan karena goa ini diyakini sebagai "istana" bagi para makhluk halus atau leluhur yang dipercaya menjaga Alas Purwo. Selain itu, Goa Istana Alas Purwo juga dikenal dengan berbagai kisah seperti tentang keberadaan sosok misterius yang kerap kali terlihat di sekitar goa. Goa ini sering dikaitkan dengan tradisi lokal yang berhubungan dengan penghormatan leluhur. Untuk menjaga kesakralan goa, banyak mitos yang berkembang di masyarakat, seperti larangan memasuki kawasan Goa Istana tanpa tujuan yang jelas.


SAVANA SADENGAN

Savana Sadengan merupakan padang rumput seluas ±80 hektare yang menjadi habitat satwa liar seperti banteng, rusa, babi hutan, dan merak hijau. Kawasan ini dilengkapi menara pandang sehingga pengunjung dapat mengamati satwa dari jarak aman. Savana ini berperan penting dalam penelitian ekologi dan pendidikan konservasi. Sebagai informasi, Savana Sadengan kaya akan jenis-jenis fauna daratan, baik kelas mamalia, aves, maupun herpetofauna (reptil dan amfibi). Hingga saat ini diketahui ada sekitar 302 jenis burung, 48 jenis mamalia, 15 jenis amfibi, 48 jenis reptil, dan lebih dari 20 jenis ikan. Dari ratusan jenis fauna yang tercatat, terdapat 14 jenis mamalia, 6 jenis reptil, dan 83 jenis burung yang dilindungi. Dari 25 spesies satwa yang terancam punah, prioritas satwa yang dilindungi di Savana Sadengan ada 3. 3 Satwa tersebut diantaranya yaitu Banteng Jawa (Bos Javanicus), Macan Tutul (Panthera melas pardus), dan Elang Jawa (Nisaetus bartelsi).


PURA GIRI SALOKA

Pura Luhur Giri Salaka adalah pura Hindu yang terletak di dalam kawasan Alas Purwo. Pura ini menjadi pusat peribadatan umat Hindu, terutama pada hari-hari besar keagamaan seperti Hari Raya Pagerwesi dan Nyepi. Keberadaan pura ini menunjukkan harmoni antara pelestarian alam dan praktik keagamaan. Pura ini dipercaya telah berdiri sejak ratusan tahun lalu dan memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Kerajaan Majapahit. Menurut cerita turun-temurun, kawasan Alas Purwo merupakan tanah pertama yang muncul dari dasar laut saat proses penciptaan Pulau Jawa, sehingga dianggap sebagai tanah suci. Pura Luhur Giri Salaka menjadi pusat kegiatan spiritual bagi umat Hindu yang ada di Banyuwangi maupun dan sekitarnya. Banyak umat Hindu yang datang untuk bersembahyang, terutama pada saat hari-hari besar seperti Hari Raya Pagerwesi, Kuningan, dan Nyepi. Nuansa keheningan hutan tropis yang berpadu dengan kentalnya sejarah , membuat pura ini terasa seperti pintu gerbang menuju masa lalu. Berada di tengah-tengah kawasan Taman Nasional Alas Purwo, pura ini seringkali dikaitkan dengan cerita-cerita mistis. Konon, pada malam hari, beberapa orang sering mendengar suara dzikir atau mantra yang seolah-olah datang dari alam lain. Bagi umat Hindu, suara ini dipercaya sebagai energi positif dari para leluhur yang menjaga kesucian Pura Luhur Giri Saloka. Meski terdengar mistis, suasana ini justru menambah daya tarik tersendiri bagi Pura Luhur Giri Saloka. Di pura ini, ara peziarah merasakan kedamaian yang dalam seolah-olah setiap langkah di area pura membawa mereka semakin dekat dengan alam semesta dan Sang Pencipta.


HILANGNYA ORANG DI ALAS PURWO

Seorang pemancing dilaporkan hilang saat melakukan aktivitas memancing di kawasan Blok Pasir Putih, tepatnya di Watu Kapal, wilayah Taman Nasional Alas Purwo, Dusun Kutorejo, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, pada Minggu Tangal 7 Desember Tahun2025 sekitar pukul 08.00 WIB.

Laporan tersebut disampaikan oleh pihak keluarga kepada Polsek Tegaldlimo setelah korban tidak kunjung ditemukan di lokasi, sementara barang-barang pribadinya masih berada di tempat kejadian.

Korban diketahui bernama Kasianto, laki-laki, berusia 44 tahun, warga Dusun Sumberkepuh, Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi.

Dua orang saksi memberikan informasi awal terkait hilangnya korban, yaitu:

1. Marjo (Gondrong), 58 tahun, warga Desa Wringin Pitu, Kecamatan Tegaldlimo.

2. Maskanan, 50 tahun, warga Dusun Somosari, Desa Samosari, Kecamatan Batealit, Jepara.

Menurut keterangan saksi Marjo, pada Sabtu Tanggal 6 Desember Tahun 2025 sekitar pukul 08.00 WIB, ia mendengar suara alarm ponsel yang berbunyi terus-menerus. Setelah didekati, ponsel tersebut milik korban, namun Kasianto tidak berada di lokasi. Selain ponsel, perlengkapan memancing dan bekal korban juga ditemukan di tempat.

Marjo kemudian memberi tahu saksi Maskanan yang berada di sebuah goa berjarak sekitar 500 meter dari lokasi. Keduanya melakukan pencarian bersama, namun korban tidak ditemukan.

Maskanan selanjutnya menghubungi pihak keluarga, yakni saudara Yunus, untuk memberitahukan bahwa korban tidak berada di lokasi, sementara sepeda motor, ponsel, dan perlengkapannya masih utuh. Pihak keluarga kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Tegaldlimo.

Hingga laporan ini diterima, pihak keluarga bersama warga setempat masih melakukan pencarian di kawasan hilangnya korban, tepatnya di Watu Kapal Blok Pasir Putih, Taman Nasional Alas Purwo.

Menurut keterangan tetangga korban, Mustofa, pada hari Sabtu tanggal 6 Desember Tahun 2025 sekitar pukul 13.00 WIB, korban diketahui berangkat memancing seorang diri menuju kawasan Alas Purwo menggunakan sepeda motor.

Kapolsek Tegaldlimo, Iptu Sadimun, membenarkan adanya laporan orang hilang tersebut. Pihak kepolisian akan melakukan tindak lanjut dan mengoordinasikan proses pencarian bersama unsur terkait.

3 Hari berselang Pria bernama Kasianto (44), yang sebelumnya dilaporkan hilang di Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi, Jawa Timur, ditemukan tewas di perairan Pebuahan, Kecamatan Negara, Jembrana, Bali pada hari Rabu tanggal 10 Desember Tahun 2025.






0 comments:

Post a Comment